Suasana hangat sharing session bertema “Penyimpangan sosial yang perlu diwaspadai” di SMA SAIM Surabaya

 

SURABAYA, arekMEMO.Com  – Kampanye mendukung pelegalan lesbian, gay (homoseksual), biseksual, dan transgender (LGBT) dalam beberapa tahun terakhir terdengar semakin nyaring. Tidak hanya oleh kalangan pelaku, pendukung gerakan penyimpangan perilaku seksual tersebut juga berasal dari kalangan aktivis HAM, seniman, musisi, olahragawan, bahkan  ilmuwan dan akademisi.

Sebagai upaya untuk melindungi generasi muslim dari penyimpangan sosial tersebut, SMA Sekolah Alam Insan Mulia (SAIM) Surabaya mengadakan agenda sharing session yang berjudul “Penyimpangan Sosial yang Perlu Diwaspadai” pada Sabtu(17/6/2023) siang.

Hadir pada acara sekolah yang beralamat di Jl. Medokan Semampir Indah 99-101 Surabaya ini pembicara Ustadz Achmad Hisyam Hidayat, Dewan Pembina Pesantren Al-Ihsan Nganjuk Jawa Timur dan Pembina HNM (Holistic New Me) Community.

Sesi Sharing diawali dengan membedah jenis-jenis norma yang ada, yang kemudian dijadikan sebagai media simulasi untuk menilai penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, di antaranya adalah narkoba, pornografi, dan LGBT.

“Jika norma kesusilaan, kesopanan, dan hukum tidak bisa dioperasikan pada satu jenis penyimpangan tertentu (LGBT), ingat, kita masih punya norma agama. Sebagian penyimpangan saat ini boleh jadi tidak tersentuh oleh hukum, tapi dia memproduksi dosa yang akan ditanggung di akhirat,” kata Ustaz Hisyam.

Menurutnya, para psikologi Barat menjelaskan fenomena LGBT secara apa adanya,  begitu saja.  Sedangkan psikologi Islam menjelaskannya dengan memasukkan unsur nilai benar dan salah, baik dan buruk, menurut petunjuk agama. “Padahal persoalan kehidupan ini sarat dengan kebutuhan nilai-nilai yang jika tidak diberlakukan, akan terjadi ketimpangan dan bisa berbahaya,” katanya.

Sebagai sosok yang cukup mendalami bidang psikologi Islam, Ustaz Hisyam tidak hanya memaparkan penyimpangan sosial an sich, tetapi membedahnya secara holistic dari sisi problem pribadi, keluarga dan lingkungan. Secara sistematis dipaparkan bagaimana mengurai masalah yang terjadi, sebelum kemudian menjelaskan pendekatan yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Forum berjalan rileks dengan suasana yang cukup cair. Sejumlah siswa antusias mengajukan pertanyaan pada forum tersebut. Namun, karena terbatasnya waktu, maka keseruan agenda tersebut ditutup dengan durasi waktu selama 1,5 jam. Semoga upaya ini menjadi salah satu edukasi bagi siswa SMA SAIM untuk dapat selalu mewaspadai segala macam bentuk penyimpangan serta dapat mengantisipasi diri dari pengaruhnya. (ono/kar)