LAMONGAN, arekMEMO.Com – Di tengah upaya kebangkitan ekonomi kreatif, para perajin songkok di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, kini justru harus menghadapi tantangan berat. Melonjaknya harga sejumlah bahan baku dalam dua pekan terakhir membuat produsen kian tergencet, lantaran biaya produksi tak lagi sebanding dengan harga jual di pasaran. Kamis, 16 April 2026.
Badai kenaikan harga ini menghantam keras industri rumahan songkok di Kecamatan Kalitengah. Meski suara mesin jahit masih terdengar berderu di sentra-sentra produksi, namun raut lesu para perajin tak bisa disembunyikan.
Sejumlah komponen utama pendukung pembuatan songkok terus merangkak naik hingga sulit terkendali. Di Desa Butungan misalnya, para pengrajin mengeluhkan kenaikan harga plastik mika ukuran 25 meter yang kini menembus angka Rp 240.000, dari harga sebelumnya yang hanya Rp 220.000.
Tak hanya itu, harga kertas pendukung pun ikut terkerek naik menjadi Rp30.000 per kodi. Kondisi ini diperparah dengan melambungnya harga kardus satuan dan kantong plastik pengemas yang mengalami kenaikan signifikan.
Ainur Rokim, salah satu perajin songkok setempat, mengungkapkan bahwa saat ini margin keuntungan para perajin semakin menipis. Namun, mereka masih berupaya bertahan dengan harga lama demi menjaga loyalitas pelanggan.
“Saat ini kami masih berupaya bertahan dengan harga lama, yakni Rp21.000 per songkok. Ini dilakukan semata-mata guna menjaga daya beli masyarakat agar tidak merosot,” ujar Ainur Rokim kepada awak media, Kamis 15 April 2026 pagi.
Meski harga berbagai komponen pendukung melejit, para perajin sedikit bernapas lega karena harga kain bludru impor asal Korea yang merupakan bahan baku utama masih terpantau stabil di kisaran Rp94.000 per yard.
Kecamatan Kalitengah sendiri merupakan jantung industri songkok terbesar di Lamongan. Di wilayah ini, ratusan warga menggantungkan hidup dari jahitan demi jahitan songkok yang distribusinya telah merambah ke berbagai kota besar di seluruh penjuru Nusantara.
Kendati demikian, para perajin mengaku tidak bisa bertahan selamanya dalam kondisi ini. Jika tren kenaikan harga bahan baku terus berlanjut hingga satu bulan ke depan, para produsen terpaksa akan mengambil langkah tegas.
“Jika kondisi ini terus berlanjut (kenaikan harga bahan baku), kami berencana akan menaikkan harga jual songkok di pasaran untuk menghindari risiko kebangkrutan,” pungkas Ainur. (Sak)

