arekMEMO.Com – Kepercayaan publik terhadap kondisi ekonomi nasional dan kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan tren menurun sebesar 30 persen.
Survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mengungkap hampir separuh masyarakat kini menilai ekonomi Indonesia berada dalam kondisi buruk, seiring merosotnya tingkat kepuasan terhadap pemerintahan hingga sekitar 30 poin persentase dibandingkan sembilan bulan lalu.
Hasil survei SMRC periode 5–19 Juli 2026 menunjukkan 49,4 persen masyarakat menilai kondisi ekonomi Indonesia buruk atau sangat buruk.
Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam sembilan bulan terakhir dan mencerminkan menguatnya persepsi negatif publik terhadap situasi ekonomi nasional.
Rinciannya, 37,9 persen responden menyatakan kondisi ekonomi buruk, sedangkan 11,5 persen menilai sangat buruk.
Di sisi lain, hanya 15,7 persen responden yang menilai kondisi ekonomi dalam keadaan baik. Sementara 33,9 persen lainnya menganggap kondisi ekonomi masih berada pada level biasa.
Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, mengatakan persepsi negatif kini menjadi pandangan mayoritas masyarakat.
“Hanya sekitar 15,7 persen warga yang melihat kondisi ekonomi nasional secara positif. Sebaliknya, sekitar separuh masyarakat, 49,4 persen, menilai kondisi ekonomi buruk atau sangat buruk,” ujar Deni yang dirilis Kompas.com, Minggu 26 Juli 2026.
SMRC mencatat penilaian negatif terhadap ekonomi meningkat tajam dibandingkan survei-survei sebelumnya.
Pada November 2025, hanya 22,7 persen responden yang menilai kondisi ekonomi buruk atau sangat buruk. Angka itu naik menjadi 31,7 persen pada Februari–Maret 2026, lalu melonjak menjadi 49,4 persen pada Juli 2026.
Perubahan persepsi terhadap ekonomi tersebut berjalan beriringan dengan menurunnya tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam survei yang sama, approval rating Presiden Prabowo tercatat 51,1 persen, turun dari 81,2 persen pada November 2025 atau merosot sekitar 30,1 poin persentase dalam kurun sembilan bulan.
Survei juga menunjukkan 4,8 persen responden merasa sangat puas terhadap kinerja Presiden Prabowo dan 46,3 persen cukup puas. Sebaliknya, 35 persen mengaku kurang puas, 11,9 persen tidak puas sama sekali, sedangkan 2,1 persen tidak memberikan jawaban.
Pada saat yang sama, jumlah masyarakat yang menyatakan tidak puas atau sangat tidak puas terhadap kinerja presiden meningkat drastis, dari 16 persen pada November 2025 menjadi 46,9 persen pada Juli 2026.
Menurut Deni, penurunan tingkat kepuasan tersebut berkaitan erat dengan memburuknya penilaian masyarakat terhadap berbagai sektor pemerintahan.
“Approval rating tidak datang dari hampa. Penurunan kepuasan terhadap kinerja Presiden Prabowo terjadi bersamaan dengan memburuknya penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi, politik, dan penegakan hukum,” katanya.
Survei bertajuk “Kondisi Ekonomi Politik dan Approval Rating Presiden” itu melibatkan 749 responden yang dipilih secara acak dari seluruh warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka dan telepon dengan margin of error ±3,7 persen.
Temuan SMRC tersebut menjadi potret terbaru mengenai hubungan antara persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi dengan tingkat kepercayaan kepada pemerintah.
Ketika tekanan ekonomi dirasakan semakin besar, dukungan publik terhadap pemerintah pun ikut mengalami penurunan.
Penulis: Rokimdakas











