arekMEMO.Com – Aktivitas pameran seni rupa di Surabaya tergolong tinggi. Hampir sepanjang tahun, tiga galeri yang menjadi pusat kegiatan para perupa, yakni Galeri Merah Putih, Galeri Surabaya, dan Galeri Purbangkara, silih berganti menggelar pameran karya pelukis lokal maupun dari berbagai daerah di Indonesia.
Namun di balik tingginya frekuensi pameran tersebut, tersimpan fenomena yang mengundang tanda tanya. Pameran berlangsung meriah, tetapi hampir tidak pernah diikuti transaksi penjualan karya.
Fenomena itu kembali terlihat dalam rangkaian pameran Bulan Bung Karno yang digelar sepanjang Juni 2026. Setelah pameran di Galeri Surabaya berakhir, agenda serupa berlangsung di Galeri Purbangkara dan kemudian berlanjut di Galeri Merah Putih.
Meski ratusan karya dipajang dan pembukaan pameran dihadiri banyak seniman, tidak ada kabar mengenai lukisan yang berhasil terjual.
“Saya tidak melihat ada transaksi,” kata Didik Heri Purnomo, salah seorang pelukis Surabaya ketika ditanya mengenai penjualan karya selama pameran.
Jawaban serupa disampaikan Bagas Karunia Putra dan Sodik. Ketiganya mengaku belum pernah menyaksikan transaksi penjualan yang signifikan selama mengikuti berbagai pameran di galeri-galeri tersebut.
“Selama pameran di sini, hampir tidak pernah ada lukisan yang terjual,” ujar mereka.
Pameran Ajang Absensi Komunitas
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai fungsi pameran seni rupa di Surabaya saat ini.
Bagi sebagian perupa, pameran tidak lagi semata-mata ditujukan untuk menjual karya, melainkan menjadi sarana menunjukkan eksistensi dan aktivitas berkesenian kepada publik maupun pelanggan mereka.
Menurut Eddy Rahmat atau yang akrab disapa Bang Jo, seorang marketer lukisan di Surabaya, pameran lebih banyak dimanfaatkan sebagai media branding dan absensi komunitas.
“Pameran menjadi cara pelukis menunjukkan bahwa mereka masih aktif berkarya dan tetap hadir di tengah komunitas seni. Itu penting untuk menjaga reputasi dan nilai karya di mata pelanggan,” ujarnya.
Ia menilai, keberadaan karya dalam sebuah pameran dapat memperkuat citra pelukis meskipun tidak selalu menghasilkan transaksi secara langsung.
Salah satu persoalan yang dinilai menjadi penyebab minimnya transaksi adalah tidak adanya jaringan kolektor yang terkelola secara sistematis.
Baik pengelola galeri maupun komunitas penyelenggara umumnya belum memiliki basis data kolektor yang dapat diundang secara khusus pada setiap pembukaan pameran.
Akibatnya, pengunjung yang datang sebagian besar berasal dari kalangan seniman, kerabat, dan masyarakat umum yang tidak memiliki tujuan membeli karya.
Merahasiakan Pelanggan
Di sisi lain, para pelukis juga cenderung menyimpan rapat jaringan pelanggan yang mereka miliki.
Sudah menjadi rahasia umum di kalangan perupa bahwa informasi mengenai kolektor atau pembeli setia jarang dibagikan kepada sesama seniman. Kekhawatiran kehilangan pelanggan membuat hubungan tersebut dijaga secara eksklusif.
Akibatnya, peluang membangun pasar seni yang lebih luas menjadi terbatas.
Fenomena lain yang muncul adalah perbedaan antara harga yang tercantum dalam pameran dengan harga transaksi sebenarnya.
Harga karya yang dipasang di ruang pamer sering kali terkesan tinggi. Namun dalam praktiknya, negosiasi di luar ruang pamer dapat menghasilkan harga yang jauh lebih rendah.
Tidak sedikit karya yang akhirnya dilepas dengan pertimbangan utama menutup biaya produksi dan memperoleh keuntungan secukupnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa harga pameran tidak selalu mencerminkan nilai pasar yang sesungguhnya.
Dari Mana Modal Berkarya?
Minimnya transaksi juga memunculkan pertanyaan mengenai keberlanjutan aktivitas para pelukis.
Budi Haryoso, pengusaha percetakan yang terlibat dalam pengelolaan Galeri Merah Putih, mengaku sering mempertanyakan sumber pembiayaan para perupa.
“Memang tidak pernah ada transaksi, tetapi mereka terus melukis. Saya kadang bertanya-tanya, dari mana modal mereka untuk terus berkarya. Padahal biaya membuat lukisan tidak murah,” katanya.
Menurut sejumlah pelukis, banyak perupa yang memperoleh pendapatan dari pekerjaan lain, seperti mengajar, menerima pesanan khusus, bekerja di sektor kreatif, maupun menjalankan usaha di luar seni rupa.
Perlu Kolaborasi
Sejumlah pelaku seni menilai lemahnya komunikasi dengan dunia pemasaran menjadi salah satu faktor utama yang menghambat perkembangan pasar seni rupa di Surabaya.
Selama ini pelukis cenderung bergerak di lingkungan komunitasnya sendiri tanpa banyak menjalin kerja sama dengan praktisi pemasaran, akademisi manajemen, pelaku bisnis, maupun komunitas profesi lain yang memiliki akses ke calon kolektor.
Padahal, pengembangan pasar seni membutuhkan pendekatan yang berbeda dengan proses penciptaan karya. “Pelukis seharusnya bisa fokus berkarya, sementara urusan pemasaran ditangani oleh orang yang memiliki kompetensi di bidangnya,” ujar Bang Jo.
Menurutnya, tanpa perluasan jaringan dan komunikasi lintas profesi, pameran seni akan terus menjadi ruang pertemuan sesama seniman tanpa mampu menciptakan ekosistem pasar yang sehat.
Fenomena pameran yang ramai tetapi minim transaksi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi perkembangan seni rupa Surabaya.
Di tengah produktivitas para pelukis yang terus terjaga, kebutuhan membangun jaringan kolektor dan strategi pemasaran profesional tampaknya menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.
(Rokimdakas)











