Warisan Budaya, Seni Lukis Kaca Hadapi Tantangan Regenerasi

Lukisan kaca, warisan seni budaya yang patut dilestarikan dan dikembangkan (kiri) dan peserta workshop merasa gembira memperoleh pengetahuan baru menggarap lukisan kaca (kanan).

SURABAYA, ArekMEMO.Com – Keberadaan seni lukis kaca di era modern kian terpinggirkan dan jarang menjumpai ruang apresiasi dalam pameran seni rupa kontemporer.

Ironisnya, medium yang terlihat sederhana itu menyimpan teknik yang tidak sederhana. Perupa harus bekerja dari balik kaca, menyusun warna dan detail secara berurutan karena hasil akhirnya baru terlihat dari sisi depan.

Teknik melukis terbalik atau reverse painting tersebut membutuhkan ketelitian, kesabaran dan kemampuan membayangkan hasil akhir sejak proses awal.

Keunikan teknik inilah yang menjadi salah satu materi penting dalam Workshop Seni Rupa: Manajemen Talenta Seni Rupa 2026 yang diinisiasi UPT Taman Budaya Jawa Timur di bawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Rabu 9 September 2026.

Persoalan yang dibahas tidak berhenti pada teknik. Regenerasi dan pengembangan seni lukis kaca juga berkaitan dengan bagaimana talenta perupa dikelola agar mampu memahami akar tradisi sekaligus memiliki keberanian melakukan inovasi.

Workshop tersebut menghadirkan perupa Agus ‘Koecing’ Sukamto, Agung ‘Tato’ Suryanto dan Dadang Rukmana sebagai narasumber.

Kehadiran para narasumber menjadi bagian dari proses pembekalan peserta untuk memahami seni lukis kaca tidak semata-mata sebagai keterampilan membuat gambar di atas kaca, tetapi sebagai bagian dari perjalanan seni rupa yang terus berkembang.

Tradisi seni lukis kaca sendiri memiliki sejarah dan persebaran yang cukup luas di Indonesia.

Cirebon, Yogyakarta, Surakarta, Madura, Bali hingga Tulungagung menjadi sejumlah wilayah yang memiliki jejak tradisi seni lukis kaca. Akulturasi budaya kemudian melahirkan karakter visual yang berbeda-beda.

Cirebon memperlihatkan pengaruh budaya Tionghoa dan Islam melalui motif Megamendung dan ragam hias kaligrafi.

Madura dan Tulungagung menghadirkan warna-warna tegas dengan karakter pesisir dan kerakyatan. Sedangkan Bali dan Jawa Tengah erat dengan stilasi tokoh wayang.

Keragaman tersebut menunjukkan bahwa seni lukis kaca sejak awal bukan tradisi yang sepenuhnya statis. Ia berkembang melalui perjumpaan budaya dan kreativitas para perupanya.

Persoalannya, bagaimana karakter tersebut dapat diteruskan kepada generasi berikutnya?

Program Manajemen Talenta Seni Rupa 2026 mencoba menjawab persoalan itu melalui proses regenerasi yang terstruktur.

Program diawali dengan open call yang menjaring 72 perupa dari berbagai daerah. Setelah melalui seleksi kurator, sebanyak 26 perupa terpilih mengikuti masterclass.

Peserta mendapatkan pembelajaran mengenai teknik dasar seni lukis kaca, manajemen seni dan wacana seni lukis kontemporer.

Sejumlah mahasiswa Unesa yang mengikuti workshop merasakan langsung tantangan teknik tersebut.
“Teknis melukis kaca memang unik karena proses penggarapannya terbalik sehingga harus hati-hati dalam menata komposisi warnanya,” ujar mereka.

Pengalaman itu menunjukkan bahwa mempelajari seni tradisi juga berarti belajar disiplin. Kesalahan dalam menentukan urutan warna atau detail dapat memengaruhi keseluruhan karya.

Namun, pembelajaran tidak berhenti pada penguasaan teknik. Masing-masing peserta diberi tugas membuat karya seni lukis kaca. Karya tersebut kemudian diseleksi untuk menentukan garapan yang layak dipamerkan.

Karya hasil proses belajar dan eksperimentasi itu direncanakan dipamerkan pada bulan berikutnya.
Pameran tersebut menjadi tahap penting karena mempertemukan proses pendidikan, penciptaan karya dan apresiasi publik.

Di sinilah pengelolaan talenta menemukan relevansinya. Perupa muda tidak hanya diarahkan mampu membuat karya, tetapi juga memahami bagaimana karya tersebut ditempatkan dalam ekosistem seni.

Seni lukis kaca pun memiliki kesempatan untuk bergerak melampaui batas tradisinya.
Akar budaya tetap menjadi pijakan. Teknik reverse painting tetap menjadi identitas. Namun gagasan, tema dan pendekatan visual dapat terus berkembang mengikuti pengalaman generasi baru.

Dengan cara itu, pelestarian tidak berarti membuat seni lukis kaca berhenti pada bentuk masa lalu.
Sebaliknya, tradisi diberi kesempatan untuk berdialog dengan zaman.

Dari dialog itulah ruang inovasi terbuka—membawa seni lukis kaca kembali menemukan tempatnya di tengah perkembangan seni rupa kontemporer.

Pos terkait