MAGETAN, arekMEMO.Com  – Kiprah Nanang Sumino, warga  Dusun Singolangu, Plaosan, Kabupaten Magetan,  yang punya usaha ternak sapi perah membuahkan hasil manis.  Dia menerima penghargaan juara kedua UMKM Awards 2021 yang diselenggarakan Bank Jatim dalam memperingati HUT  ke 60 dan HUT Kemerdekaan RI ke 76.

Di desanya, dialah orang pertama kali beternak sapi perah. Sebagai perintis, awalnya dia memelihara dua ekor sapi perah dan kini menjadi 13 ekor. Tapi, keberhasilannya sebagai peternak sapi perah hingga mendapat penghargaan  tidak begitu mulus.

Keberhasilan beternak sapi perah yang diraihnya ini justru setelah dia gagal sebagai peternak penggemukan sapi.  “Awalnya saya gagal usaha penggemukan sapi,  karena biaya pakan yang tak sebanding dengan harga jual sapi  yang saya gemukkan,” ujar pria 40 tahun ini, Senin (23/8/2021).

 Apalagi harga jual sapi dari hasil  penggemukan ditentukan tengkulak, sehingga ia sebagai pemilik sapi tak bisa berkutik.  “Para tengkulak kalau memberi harga hanya menggunakan perkiraan sendiri. Terkesan seenaknya, dan ujung-ujungnya saya merasa hanya mendapat capek saja sebagai peternak penggemukan sapi,”  kenang Nanang, panggilan akrabnya.

Merasa gagal usaha penggemukan sapi, dia  banting stir. Nanang mulai  mencoba menggeluti ternak sapi perah. “Untuk beternak sapi perah sangat menguntungkan, karena potensi alam daerah sini sangat menunjang sekali. Awalnya, memulai dengan dua ekor dan kini menjadi 13 ekor,” kata Nanang membuka kisahnya.

  Alhamdulillah, kata dia, beternak sapi perah  akhirnya berhasil. Di luar dugaannya, para warga lain mengikuti jejaknya. Sekarang, jumlah peternak sapi perah di desanya ada sekitar 60 orang lebih. Mereka tertarik, karena beternak sapi sangat menguntungkan. Apalagi, di desanya tersedia pakan yang melimpah dan hasilnya sudah ada yang menampung.

 “Hasil produksi susu  mereka ditampung di Omah Susu Lawu di Dusun Singolangu, Plaosan, Magetan.  Dalam sehari, sekitar 60  peternak sapi perah rata-rata bisa menghasilkan susu 2500- 3000 liter yang kemudian diolah lagi menjadi lima varian rasa lalu dijual,”  kata Nanang Samino.

Dalam satu hari, setiap satu ekor sapi perah menghasilkan susu kisaran 50 liter. Sapi perah di mata Nanang, sungguh sangat menguntungkan karena secara matematis hasilnya bisa dihitung.

Apalagi Dusun Singolangu, Plaosan,  tempat Nanang tinggal, dipilih pemkab setempat menjadi pusat pengembangan sapi perah. Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magetan yang setiap saat  melakukan  pengawasan tak hanya fokus pada cara pemeliharaan sapi saja,  namun sampai pada pengolahan produk susu dan produk olahannya.

 Jangan heran bila kualitas susu sapi Dusun Singolangu, yang saat ini mendapat julukan “Kampung Susu Lawu”  memiliki kandungan protein yang lebih baik dari produk susu di pasaran.

Kandungan susu sapi Singolangu proteinnya cukup tinggi. Inilah sebetulnya nilai plus. Karena dari sisi pemeliharaan,  misalnya,  kebutuhan pakan ini sangat diperhatikan untuk menjaga kualitas susu. Apalagi di  Singolangu ini cuaca juga sangat mendukung. (kar)