Guru dan Ibu dalam Perspektif “Power”

Oleh Amang Mawardi

ArekMEMO.Com – Seorang guru sejati tak pernah takut ditinggalkan muridnya. Dia ngajar bukan buat cari pengakuan, bukan buat diingat-ingat terus, apalagi buat minta balasan.

Begitu muridnya lulus dan bisa jalan sendiri, dia justru ikhlas melepas.

Yang bikin dia kepikiran itu beda, guys. Bukan soal “nanti aku apa akan dilupakan ?”, tapi lebih ke “cukup nggak yang aku kasih buat bekal dia hidup?”

Apakah ilmunya kepakai, mentalnya kuat, akhlaknya baik, setelah dia nggak lagi dibimbing?

Ini mirip seorang ibu. Ibu ngerawat anak bukan supaya anaknya terus nempel dan bergantung, tapi supaya anaknya bisa mandiri. Walaupun anaknya sudah jauh, sayangnya ya tetap sama.

Paparan di atas saya sampaikan setelah saya membaca postingan Dokter Hisnin di beranda akun Facebooknya Hisnindarsyah Dokter pada 28 September lalu, di mana postingan ini dilengkapi foto saat ia mendorong kursi roda yang di situ duduk Ibunda dari dokter hiberbarik yang juga doktor ilmu manajemen ini.

Selengkapnya begini:

“Seorang guru tidak pernah khawatir ditinggalkan muridnya
Tapi seorang guru selalu khawatir
Bagaimana keadaan muridnya setelah meninggalkannya.

Begitupun seorang ibu.”

Di bawah quote tersebut dibubuhkan catatan : HSD menjadi guru sejak 1999.

Kalau ditarik lebih jauh –dalam perspektif _power_ misalnya– quote ini membahas soal kepemimpinan yang enggak egois.

Pemimpin biasa itu takut ditinggalkan. Takut kehilangan kekuasaan, takut enggak populer lagi, takut enggak didukung.

Nah, pemimpin besar itu mikirnya kebalik. Yang dia khawatirkan adalah: gimana nasib orang-orang yang dia pimpin setelah dia nggak ada lagi.

Ukuran suksesnya pun beda. Guru dianggap berhasil kalau muridnya bisa mandiri. Pemimpin besar juga begitu, berhasil kalau sistem, nilai, dan orang-orang yang dia siapkan tetap jalan tanpa harus ada dia.

Boleh jadi seperti Nelson Mandela yang cuma mau jadi presiden satu periode demi demokrasi.

Atau George Washington yang menolak usulan Kolonel Lewis Nicola perwira Continental Army, untuk dijadikan raja.

Alasan George, mengingat perjuangan Amerika meraih kemerdekaan dari penindasan monarki Inggris. Lha kok setelah merdeka, didorong mau jadi monarki.

Usulan kolonel ini dikenal sebagai _Newburgh Letter_ 22 Mei 1782.

Pada akhirnya, pemimpin besar itu kayak Ibu bagi bangsanya. Bukan penguasa yang nuntut balas budi, tapi pengasuh yang nyiapkan generasi berikutnya supaya bisa lebih hebat dari dia.

Jadi, definisi pemimpin besar itu sederhana saja: bukan yang paling lama dikenang, tapi yang paling berhasil bikin pengikutnya “nggak lagi butuh dirinya”, guys. Begitulah setidaknya quote Dokter Hisnin jika dielaborasi.(*)