arekMEMO.Com – Banyak cara suami untuk menunjukkan cintanya kepada istri. Bahkan mungkin kepada istri-istrinya — setidaknya soal tanda cinta kepada para istri itu terjadi pada zaman dulu kala.
Siapa yang tak pernah mendengar Istana Taj Mahal di India yang (kalau tidak salah) masuk _Tujuh Keajaiban Dunia_. Istana sangat indah ini dibangun atas perintah Raja Shah Jangan, karena saking cintanya kepada salah satu istrinya yang bernama Mumtaz Mahal.
Selain Taj Mahal yang paling terkenal itu, ada beberapa “bukti cinta” suami ke istri :
Istana dan benteng Alhambra di Spanyol, dibangun oleh Sultan Muhammad I pada era Dinasti Nasrid
untuk para permaisuri dan keluarga kerajaan. Lokasi ada di Granada, meski bukan khusus untuk satu istri, tapi untuk beberapa istri sultan — dengan membangun banyak ruang dan taman-taman indah.
Mausoleum Halikarnas, Turki,
dari Raja Mausolus
untuk istrinya Ratu Artemisia II.
Dan jangan lupa, di dekat-dekat kita ada persembahan raja kepada permaisuri, yaitu dibangunnya
Candi Prambanan
dari Rakai Pikatan
untuk istri yang begitu dicintainya: Pramodhawardhani.
Tentu bukan seperti itu jika ditinjau dari aspek konstruksi dan heritage jika dikaitkan dengan komedian M. Chenghoo Djadi Galajapo.
Untuk menandai ulang tahun istrinya Meliana Prastianingsih ke-60 yang jatuh pada 8 Agustus 2026, komedian tersebut mempersembahkan buku yang ditulisnya, berjudul : “Ngislam”.
Ini adalah buku ke-9 yang ditulis M. Chenghoo Djadi Galajapo yang menyebut dirinya sebagai Imam Besar Pelawak Indonesia itu.
“Ngislam” adalah akronim dari: _Ngelakoni Iling Sabar Loman Andap Asor_ dan _Manunggaling Kawula Gusti_ dalam _Budhi Nusantara_.
Dalam kata pengantarnya, Cak Djadi antara lain menyatakan :
Ketika Islam datang ke tanah Jawa melalui Wali Songo pada abad ke-15 hingga ke-16, ia tidak datang sebagai penghapus, melainkan sebagai pemurni. Mereka tidak mencabut akar Jawa, melainkan mencangkokkan Islam ke akar yang sudah ada. Hasilnya adalah sebuah ekspresi keislaman khas Nusantara yang tidak pernah ada duanya di belahan dunia manapun.
Buku dengan tebal
112 halaman ini diterbitkan pertama kali pada Juli 2026 oleh Penerbit Djadi Literasi.
M. Chenghoo Djadi Galajapo selain komedian papan atas Jawa Timur, juga dikenal sebagai pecinta dunia literasi.
Adapun buku yang ditulisnya sebelum “Ngislam” adalah :
“Neraka Wail dan Kuwe Terang Bulan”;
“Pesan Pelawak Pancasila”;
“Surabaya Kaya Raya”;
“Pelawak” (Penuntun Laku di Segala Waktu);
“30 Tahun Mbanyol di Jawa Pos”;
“Meniti Jalan Tasawuf” (Hakikat Humor);
“59 Tahun 59 Puisi”;
“60 Fatwa Imam Besar Pelawak Indonesia”.(AM).
