arekMEMO.Com – Tidak semua perjalanan hidup selalu terang. Ada fase-fase ketika seseorang harus berjalan di jalan yang keruh sebelum menemukan kejernihan.
Gagasan itulah yang menjadi napas pameran tunggal perupa Agus Koecink bertajuk “Meniti Keruh Memikul Jernih”. Acaranya berlangsung di Galeri Prabangkara, Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya, Sabtu 25 Juli 2026.
Sebanyak 35 karya dipamerkan sebagai catatan perjalanan seorang seniman yang menjelajah berbagai kota hingga lintas negara.
Dari Surabaya, Bali, Yogyakarta, Solo sampai Prancis, Agus tidak hanya membawa pulang pengalaman perjalanan, tetapi juga menyerap berbagai peristiwa sosial, bentang alam, dan kebudayaan yang kemudian diterjemahkan menjadi bahasa visual yang unik.
Sekilas, lukisan-lukisan Agus terlihat riang. Warna kuning menyala mendominasi kanvas, diselingi hijau, biru, ungu, merah muda dan jingga.
Figur manusia tampil dengan wajah-wajah yang bertumpuk, ditemani burung, bunga, robot, makhluk imajinatif dan simbol-simbol yang menghidupkan ruang.
Namun, di balik warna-warna ceria itu tersimpan pesan yang dalam. Agus berbicara tentang pergulatan batin manusia menghadapi ego, kegagalan, konflik, hingga harapan.
Baginya, seni bukan sekadar menghadirkan gambar yang indah, melainkan cara memahami kehidupan.
“Semua rintangan dapat berubah menjadi jernih ketika kita memilih berpikir positif demi menghadirkan kebahagiaan bagi sesama,” ungkap Agus.
Kekuatan karya Agus justru terletak pada kemampuannya mengubah tema-tema berat menjadi visual yang akrab. Tidak ada kesan menggurui. Pengunjung bebas menafsirkan sendiri cerita di balik setiap wajah, burung, bunga maupun makhluk-makhluk imajinatif yang memenuhi bidang kanvas.
Bahasa visual yang spontan membuat karya-karyanya terasa hidup. Mata pengunjung akan terus menjelajah dari satu objek ke objek lain, menemukan detail-detail kecil yang seolah mengajak berdialog.
Pameran ini menjadi penanda bahwa seni rupa kontemporer tidak harus rumit untuk dipahami. Di tangan Agus Koecink, warna, garis, dan simbol justru menjadi jembatan untuk mengajak publik merenungkan kehidupan dengan cara yang lebih hangat.
Melalui “Meniti Keruh Memikul Jernih”, Agus mengingatkan bahwa di balik setiap perjalanan yang penuh tantangan, selalu ada peluang melahirkan kejernihan, harapan, dan kebahagiaan bagi orang lain.
Sebuah pesan yang terasa relevan di tengah kehidupan masyarakat yang terus menghadapi perubahan dan ketidakpastian.
Penulis: Rokimdakas
